Jakarta Gelap Selama Satu Jam, Tanda Cinta untuk Bumi
![]() |
| Sumber : Kumparan |
Sabtu
malam, langit Jakarta terasa lebih gelap dari biasanya. Gedung-gedung pencakar
langit di kawasan Sudirman-Thamrin tampak mematikan lampu-lampunya,
meninggalkan siluet kota yang sunyi namun bermakna. Ini bukan karena pemadaman
listrik mendadak, tapi bagian dari aksi “Satu Jam untuk Bumi” yang diadakan
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pada 26 April 2025 dalam rangka memperingati
Hari Bumi.
Aksi ini
dilakukan serentak di seluruh Jakarta, di mana lampu-lampu non-esensial
dimatikan selama satu jam, mulai pukul 20.00 hingga 21.00 WIB. Gedung
perkantoran, pusat perbelanjaan, hingga ikon kota seperti Monumen Selamat
Datang ikut serta dalam aksi simbolik ini. Tidak hanya di pusat kota, wilayah
Jakarta Timur, termasuk sekitaran Lubang Buaya, juga turut merasakan dampaknya.
Beberapa permukiman, jalan lingkungan, dan area komersial di sana tampak redup
sejenak dalam semangat yang sama: mencintai bumi.
Tujuan
aksi ini sederhana namun penting: mengingatkan warga Jakarta akan pentingnya
menjaga bumi dari krisis iklim dan kerusakan lingkungan. Pemadaman ini bukan
hanya soal menghemat energi selama satu jam. Lebih dari itu, ini adalah bentuk
kesadaran kolektif bahwa bumi semakin rapuh dan kita semua punya peran untuk
menjaganya. “Jakarta Gelap” menjadi kampanye visual yang kuat—karena saat kota
megapolitan ini gelap, pesan tentang krisis lingkungan menjadi semakin terang.
Selain
pemadaman listrik, Pemprov DKI juga mengadakan berbagai kegiatan lain seperti
kampanye daur ulang, penanaman pohon, hingga diskusi komunitas tentang gaya
hidup ramah lingkungan. Aksi ini diharapkan bisa menjadi momen refleksi bagi
masyarakat: sudah sejauh mana kita peduli pada lingkungan di sekitar kita?
Antusiasme
masyarakat pun terlihat dari banyaknya unggahan di media sosial dengan tagar
#JakartaGelap dan #SatuJamUntukBumi. Banyak warga mematikan lampu rumah,
berhenti menggunakan alat elektronik sejenak, dan menikmati malam dalam
keheningan. Tak sedikit yang merasa bahwa satu jam itu menjadi momen untuk
lebih menghargai bumi dan apa yang telah diberikannya pada kita.
“Bumi ini
rumah kita bersama. Kalau bukan kita yang jaga, siapa lagi?” tulis salah satu
warganet dalam unggahannya.
Aksi
simbolik ini mungkin terlihat kecil, tapi jika dilakukan secara konsisten dan
bersama-sama, dampaknya bisa sangat besar. Karena menjaga bumi bukan hanya
tugas pemerintah atau aktivis lingkungan, tapi tugas kita semua.
Text : Quincy Nikita
Hard news
