Guiding Block Mengarah ke Sungai di Benhil Dibongkar, Warga dan Siswa Sempat Bingung

Sumber : detikNews


Jakarta kembali menjadi sorotan setelah sebuah guiding block (ubin pemandu untuk tunanetra) yang terpasang di trotoar kawasan Bendungan Hilir (Benhil), Jakarta Pusat, mengarah langsung ke sungai. Kejadian ini menjadi viral di media sosial setelah seorang siswa tunanetra mengkritisinya karena bisa membahayakan pejalan kaki disabilitas.

 

Guiding block tersebut seharusnya membantu penyandang disabilitas, terutama tunanetra, agar bisa berjalan dengan aman dan terarah di trotoar. Namun, di lokasi tersebut, ubin justru malah berbelok ke arah pembatas sungai tanpa adanya penghalang yang cukup jelas. Jika tidak hati-hati, bisa saja orang yang mengikutinya jatuh ke sungai.

 

Sebuah video yang menampilkan siswa tunanetra menunjuk arah guiding block yang salah tersebut menyebar luas dan menimbulkan banyak komentar. Banyak netizen menyayangkan pemasangan yang asal-asalan tanpa mempertimbangkan keselamatan pengguna sebenarnya.

 

Menanggapi hal ini, Dinas Bina Marga DKI Jakarta langsung mengambil langkah cepat. Mereka membongkar bagian guiding block yang bermasalah di trotoar Benhil. Petugas pun langsung turun tangan untuk memperbaiki agar jalur guiding block tidak lagi membahayakan.

 

“Kami langsung melakukan pembongkaran dan akan mengatur ulang jalurnya agar sesuai dengan standar aksesibilitas,” kata salah satu petugas lapangan.

 

Perbaikan dilakukan sebagai bentuk tanggapan cepat atas masukan masyarakat. Pemerintah pun mengakui bahwa pemasangan sebelumnya kurang memperhatikan kelayakan dan keselamatan. Kini, mereka berjanji akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap seluruh guiding block di Jakarta.

 

Dari pantauan di lokasi, bagian guiding block yang semula menuju ke arah sungai sudah dibongkar. Beberapa pekerja terlihat mulai menata ulang posisi ubin. Sementara itu, jalur trotoar lainnya juga akan dicek ulang demi memastikan tidak ada kesalahan serupa.

 

Masyarakat berharap kejadian seperti ini tidak terulang lagi. “Ini soal keselamatan, apalagi bagi tunanetra. Harusnya dari awal bisa lebih teliti,” ujar Dani, warga sekitar.

 

Sementara itu, para pemerhati disabilitas juga mengingatkan pentingnya melibatkan kelompok penyandang disabilitas saat perencanaan fasilitas umum. Dengan begitu, pembangunan bisa benar-benar inklusif dan sesuai kebutuhan pengguna.

 

Kasus ini menjadi pengingat bahwa pembangunan kota tidak hanya soal membangun fisik, tetapi juga soal empati. Memahami siapa yang akan menggunakan fasilitas, dan bagaimana membuat mereka merasa aman, adalah bagian penting dari kota yang layak huni.

 

Semoga pembenahan ini jadi langkah awal menuju Jakarta yang lebih ramah untuk semua.





Text : Quincy Nikita 

Soft news

 

Popular posts from this blog

Cara Pakai Kartu JakLingko Mobility (JakMobil) untuk Naik Transportasi Gratis di Jakarta

Baiq Market Jagakarsa Ramai! Banyak Orang Berbelanja Menjelang Lebaran

Ganara art: Hiburan Yang Menambah Kekreatifan Berupa Karya Seni